Senin, 28 Mei 2012

Nikmat itu disebut "BEKERJA"

Bekerja bagi seorang laki-laki adalah wajib. Apalagi ia sudah menjadi seorang suami juga ayah, karena istri dan anaknya wajib ia nafkahi. Namun, bekerja jangan diartikan harus bekerja di kantor, karena yang dirumah saja, ternyata bisa loh menghasilkan puluhan juta rupiah. Yang terpenting, ia bisa memanfaatkan waktu menjadi uang yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup keluarga secara halal. Namun, terlepas dari laki-laki harus bekerja, ternyata saat ini tak jarang ditemukan wanita bekerja diluar rumah, dengan berbagai alasan. Seperti : penghasilan suami tidak mencukupi, ingin beraktualisasi dengan keilmuannya, ingin mandiri dan berpenghasilan, berjaga-jaga jika pilar sang suami tak lama berdiri, dan banyak lagi alasan. Tapi, apapun itu alasan, pada dasarnya wanita tidak berkewajiban penuh mencari nafkah, namun jika ia tetap memilih untuk bekerja dengan alasan yang baik dan lurus, kalau kata mamah Dedeh.. PAHALA untuk nya..dan sama dengan JIHAD. Subhanallah... Saat ini pun, ternyata banyak laki-laki yang susah mendapat pekerjaan, namun justru wanita mudah. Entah mengapa.. Seperi pembantu di rumah mertua, yang suaminya tidak bekerja, otomatis, ia harus banting tulang untuk bekerja. atau banyak kasus lainnya, dimana sang suami tak kunjung mendapat pekerjaan, padahal anak mereka terlanjur banyak. Jadilah, sang istri harus banting tulang... sudah ngurus anak ya bekerja banting tulang juga. Sungguh, sudah sepatutnyalah kita semua bersyukur.. Ngomong-ngomong perihal bekerja. Entah, suatu hari, saya ditelp oleh bapak-bapak, dengan alasan ia ingin memberitahuku ada rumah yang ingin di jual, ngomong panjang lebar. Hingga, akhirnya,,, "maaf Pak.. Saya sedang tidak buru-buru mencari rumah... Nanti memang jika ada yang cocok, ya saya lihat, tapi kalau belum ada yang cocok ya sudah,.tidak apa2" jawab ku Melihat jawabanku yang tidak terlalu antusias dengan tawarannya.. Ia justru bilang.. "Bu,, tolong ya bu... Kalau ada kerjaan, hubungi saya..." "Kerjaan apa saja bu, kebetulan saya baru keluar dari kerjaan, karena kontrak saya habis, padahal saya sudah tua bu.." "Kerjaan apa saja, saya mau bu..." ehem...sambil menelan ludah.. dalam hati.. Kenapa jadi begini.. "Ooo.. begitu ya Pak.." jawab ku "Maaf pak, saya sendiri juga tidak bisa menjanjikan apa2" " Iya tidak apa2 bu.." " saya bingung bu, anak saya baru usia 10 bulan, tapi saya malah tidak punya kerjaan" "makanya apa saja saya lakukan asal halal, seperi halnya mencari2 rumah, siapa tahu ada yang cocok bu" Masyaallah... dalam hati saya berujar.. Ya Allah..saya merasa kesulitan yang sedang saya hadapi, rasanya begitu sulit, tapi ternyata diluar sana, banyak yang merasakan kesulitan jauhhh lebih besar dari saya.. Mendengar kondisi bapak tersebut, saya cukup tersentuh. Saya pun baru punya bayi usia 4 bulan, dengan kondisi alhamdulillah, saya dan suami masih bekerja. Karena kebutuhan anak pasti banyak. Tapi, si bapak tadi, anaknya pun tentu ingin merasakan hidup yang bahagia.. tapi..ternyata ayah ibunya tidak seperti ayah ibu anak-anak lainnya yang memiliki pekerjaan. Saya pernah, ingin sangat menangis melihat anak usia sekitar 10bulan, dipaksa mengemis oleh ibunya. Sambil dipangku sang ibu, ia diminta ikut mengemis, dengan wajah yang sangat kotor (maaf), sudah begitu duduk di jalanan becek, sambil makan nasi bungkus bekas yang dimakan bersama kakaknya.. MasyaAllah... saya jadi teringat Liga..ada sedikit alergi diwajahnya, alhamdulillah, kami (ayah ibunya) masih bisa membelikan obat untuknya. Tapi, bagaimana dengan anak tadi.. apakah ia juga tidak berhak mendapatkan kebahagiaan.??? sungguh sedih sekali rasanya.. Sungguh, manusia jarang sekali bersyukur.. Seharusnya kita patut bersyukur dengan syukur yang amat sangat dalam kepada Allah.. Betapa, ia masih memberikan kehidupan yang jauh lebih baik dari mereka semua yang berkekurangan.. Sepatutnyalah..kita berbagi.. setidaknya bersyukur dengan apa yang telah kita miliki, dan tidak mengeluh dengan apa yang belum/tidak kita miliki.. dan nikmat itu disebut "BEKERJA" disaat jutaan orang lainnya mendambakan untuk meraihnya...sekedar untuk membahagiakan anak dan istrinya.. Semoga..kita bisa mengisi kehidupan ini dengan kebermanfaatan.. amin.. "peluk sayang untuk Liga-yang telah bersabar, karena ayah ibunya harus bekerja diluar rumah" We luv u and teaching you how life it is.. Someday..you will know..:-) how big our love for u..

Rabu, 25 April 2012

The Journey of Our liga

Alhamdulillah.. Liga semakin hari semakin menggemaskan. Kini ia sudah bisa mengoceh dan seakan mengajak ngobrol. Lucunya... jadi pengen maem pipinya..hehehee :-) 5hari lagi, Liga tepat berusia 3bulan. Dan berikut dokumentasi Liga, pada beberapa moment. Yang tentunya akan sangat indah untuk dilihat lagi..
Selain itu, Liga juga sudah bisa memperhatikan mainan yang berikut ini.
Meskipun sudah hampir 3 minggu ini, saya, bekerja di kantor. Tapi, alhamdulillah, liga dijaga oleh kakek dan neneknya di rumah. InsyaAllah..liga tetap sehat dan terpenuhi semua kebutuhannya baik dari sisi perkembangan dan pertumbuhannya.. amin.. Kecup sayang buat Liga.. -Dari ibu dan ayah yang lagi ngantor-

Lesson 1

Untuk banyak kondisi, ternyata berfikir terlalu panjang dan penuh pertimbangan ada kalanya tidak penting lagi. Karena, toh setiap pilihan ada konsekuensinya. Tapi, saya, tergolong orang yang penuh pertimbangan dalam memilih sesuatu. Dari mulai memilih sepatu untuk di beli, memilih baju, atau memilih apapun, itu bakal dipikir sampe mendalam. Seperti, apakah sepatu ini bermanfaat dengan sangat untuk saya? warnanya? dsb... hingga tak jarang, akhirnya saya tidak jadi membelinya.. Tapi, puas, karena saya telah mempertimbangkannya dengan baik. Namun, dikondisi yang lain, ternyata berfikir cepat dan memutuskan sesuatu dengan cepat juga sangat penting. karena tidak selamanya kita bisa berlama-lama dalam mengambil sebuah keputusan. Well... Pelajaran hari ini, jangan pernah takut untuk membuat keputusan. dan belajar untuk cepat dan tepat dalam mengambil setiap keputusan.

Selasa, 10 April 2012

Pembelajaran "Dilematis"

-Dilema-
Udah kayak judul film dan lagu yaa.. Melankolis, melankolis gimana gituh...

Hari senin kemarin tepatnya tanggal 9 April 2012, saya, Nurlita Tsania, sudah habis jatah cutinya, sehingga harus segera masuk kantor. Sebenarnya, masukny si harus dari tanggal 2 April, namun berhubung, saya orang yang sangat disiplin dan workaholic (sambil geleng-geleng kepala kebawah), jadilah saya masuk tanggal 9 April (atas izin atasan langsung).

Hari pertama masuk kantor. (Momen ini dipersembahkan oleh...) - gaya indonesian idol.

Perihal bangun pagi, tidak ada waktu yang berubah dari sebelumnya. Namun, yang berubah adalah, biasanya bangun tidur,hanya ada suami di samping (selain guling dan bantal), sekarang, ada makhluk hidup kecil yang lucu dan menggemaskan juga, yaitu Liga (anak kami). Sehingga, seharusnya udah bisa mandi, ngaji atau makan pagi. Sekarang tergantikan dengan masih mengganti popok atau menyusui liga, anak pertama saya. Momen yang selama cuti, agak enggan untuk di berhentikan cepat-cepat. Namun, karena harus berangkat bareng ayah, yang notabene kantor kami sama-sama jauh dari Depok, jadilah momen menyusui dan ganti popok, harus dengan segera di selesaikan. Tentunya setelah liga telah kenyang menyusui dan segera tertidur kembali yaa..

Setelah liga bobo lagi, saya segera mandi, ayah pun sudah mandi terlebih dahulu. Setelah mandi, langsung salat subuh, setelah itu, langsung siap-siap berangkat. Kami harus berangkat dari depok setidaknya jam setengah enam pagi. Kalau tidak, alamat macet di jalan. Namun, yang buat agak berbeda. Dulu kekantor mah biasa aja, paling bawa buku sama bolpen (ckckckck), sekarang, perlu dan kudu bawa botol-botol kecil, kayak mau jualan sirup sama jamu, ditambah alat mirip terompet kecil yang bisa dipompa alias pompa asi. Gak boleh ketinggalan. Boleh hp ketinggalan, tapi kalau alat-alat tadi ketinggalan. waduh,,,,mau jadi apa dunia???

Akhirnya, kami bisa berangkat jam setengah enam lewat dikit. Ini momen yang paling mengharukan, karena harus berpisah sebentar dengan Liga, dalam waktu yang relatif lama. Kebetulan saat itu liga sudah bangun, sambil digendong nenek, liga melihat ibu dan ayahnya akan berangkat kantor. Baik-baik dirumah ya nakk...hiks-hiks.. pengen nangis, tapi harus kuat!!.. Berhubung liga masih berusia 2 bulan lebih, jadi ia belum begitu mengerti. sehingga ia pun hanya diam menatap kami, walaupun kami tidak tahu, apa yang ada dalam hatinya.

Di perjalanan menuju kantor, benar saja, macet tak terhindarkan, terlebih ini hari senin. saya dan suami, mengobrol serius, sepanjang perjalanan. Yaitu mengenai judul blog ini, yaitu dilematis.. sebuah sindrom pasangan yg sama2 bekerja dan br punya baby yaitu apakah tidak sebaiknya istri keluar kerja sj? --tp pending, dan keputusannya to be continued-

benar sj, sy smp kantor jm 8 kurang dan pastiny ayah akan telat. di kantor, ternyata sudah banyak hal yg berubah. baik wajah bos-bos yg berganti juga perasaan sy tentunya yg tidak keruan. hehehehehe. but, so far so well.
jam 11, PD udah cenat cenut minta di pompa, akhirnya turunlah ke bawah ke ruangan pojok asi. alhamdulillah, lega setelah di pompa. giliran si botol2 kecil buat di isi dengan 150 ml asi perasan yg selanjutnya di simpan di kulkas.

jam 3 sore, kembali PD cenat cenut. akhirnya, aku peras lagi dan dapat 150ml lagi. lumayannn...jam empat sore, saya izin pulang sama bos. Langsung tancap gas, buat pulang kerumah, menengok apa yang terjadi dengan liga...setelah uji coba hari pertama. setiap jam 12, saya telepon ke rumah, untuk tanya kondisi liga. dan alhamdulillah, liga baik-baik saja. Setelah itu, saya tanya liga habis berapa botol bu?
ternyata liga habis lebih dari 300 ml siang itu. waw... berarti saya harus mengejar asi perasan saya ni. semangattt...

Perjuangan ibu bekerja yang masih mempunyai bayi yang butuh asi eksklusif ya memang seperti ini. Inilah perjuangannya. Semoga saja, Allah memberikan jalan yang terbaik, selama kita telah maksimal melakukan yang terbaik. Amin
Kebetulan di ruangan saya, ada juga ibu yang sedang menyusui, jadilah kulkas kami, digunakan untuk tempat menyimpan ASI.

Pastinya, bagi banyak ibu bekerja, yang baru saja masuk kantor setelah melahirkan, menjadi momen yang mendebarkan sekaligus khawatir. Dikarenakan harus meninggalkan anak, entah itu dengan neneknya, baby sitter, pembantu atau mungkin dititip ke day care. tapi ya itulah, fenomena saat ini. Tinggal kita memilih..ingin menjadi yang seperti apa.

Pastinya, hidup itu adalah memilih. Kita tidak bisa menjalani semuany, tapi pilih salah satu dari yg baik-baik.dg sgala konsekuensinya..dan risikonya. dan itulah yg disebut hidup.

Senin, 12 Maret 2012

S A T U - T A H U N

ALhamdulillah, tepat hari ini, 12 Maret 2012, tepat 1 tahun, pernikahan saya dengan suami. Tanpa terasa, satu tahun sudah kami lewati bersama. Suka duka, telah kami lalui bersama.Selain itu, Kebahagiaan kami, di tahun ini, terasa lengkap, setelah kelahiran putra pertama kami pada Februari yang lalu. Di tahun pertama kami menikah, kami, alhamdulillah, sudah diamanahkan oleh Allah seorang putra yang sehat. Amanah ini, menjadi tanggung jawab besar bagi kami, yang diharapkan, perlahan-lahan akan mengikis kebiasaan buruk kami di masa lalu menjadi serangkaian kebiasaan baik yang dapat ditiru anak kami (amin). Karena, kami sebagai orang tua, tentunya akan menjadi teladan bagi anak kami.

Di ulang tahun pertama pernikahan kami, Liga, telah berusia 1bulan 12 hari. Ia tumbuh kian menggemaskan. dan Menjadi penyemangat kami yang tiada henti. Manusia, pada dasarnya, diciptakan oleh Allah, berpasang-pasangan, lantas berketurunan, untuk mengisi dunia ini dengan kebermanfaatan. Amin. Sehingga, sebisa mungkin, kita dapat menjadi pribadi yang semakin baik dari hari ke hari.

Satu tahun yang lalu, tepat di tanggal ini, kami mengucap janji hidup bersama di depan pak penghulu, disaksikan para malaikat yang menyaksikan ijab kabul kami. Tepat di tanggal ini, satu tahun yang lalu, kami bersalaman dengan para tamu undangan yang hadir di resepsi pernikahan kami. Tepat satu tahun yang lalu, saya, ambil cuti pernikahan selama satu minggu.

Dan tepat di tanggal yang sama pada tahun 2012. Saya dan suami telah menjadi ibu dan ayah bagi Liga Haddaf Saga Putra. Tepat di tanggal ini, saya masih mengambil cuti melahirkan. Tepat di tanggal ini, saya masih menjalankan kewajiban untuk menyusui liga dengan sangat bahagia. Dan tepat di tanggal ini, saya merasa kian lengkap nikmat Allah ini..







Tidak semua yang enak itu baik
dan
Tidak semua yang tidak enak itu buruk
Sehingga, menikmati setiap proses baik itu enak atau tidak, menjadikan semuanya terasa baik bagi kehidupan.

Rabu, 07 Maret 2012

Apakah Anakku Harus Rangking 1?

Apakah Anakku Harus Ranking 1?



Si Ranking 23 : “Aku ingin menjadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan”



Di kelasnya terdapat 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya. Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar,namun ternyata anak kami menerimanya dengan senang hati.



Suamiku mengeluhkan ke padaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji “Superman cilik” di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja. Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak kami rangking nomor 23 dan tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya begitu bersinar-sinar.



Kemudian ketika dia membaca sebuah berita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang masuk perguruan tinggi, dia bertanya dengan hati kepada anak kami: “Anakku, kenapa kamu tidak terlahir sebagai anak dengan kepandaian luar biasa?” Anak kami menjawab: “Itu karena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian yang luar biasa”. Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya tanpa tertahankan tertawa sendiri.



Pada pertengahan musim, semua sanak keluarga berkumpul bersama untuk merayakannya, sehingga memenuhi satu ruangan besar di sebuah restoran. Topik pembicaraan semua orang perlahan-lahan mulai beralih kepada anak masing-masing. Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah cita-cita mereka di masa mendatang? Ada yang menjawab akan menjadi pemain piano, bintang film atau politikus, tiada seorang pun yang terlihat takut mengutarakannya di depan orang banyak, bahkan anak perempuan berusia 4½ tahun juga menyatakan bahwa kelak akan menjadi seorang pembawa acara di televisi, semua orang bertepuk tangan mendengarnya.



Anak perempuan kami yang berusia 15 tahun terlihat sangat sibuk sekali sedang membantu anak-anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya kelak. Di bawah desakan orang banyak, akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh: Kelak ketika aku dewasa, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari lalu bermain-main. Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan akan cita-cita keduanya. Dia menjawab dengan besar hati: “Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang”. Semua sanak keluarga tertegun dibuatnya, saling pandang tanpa tahu akan berkata apa lagi. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.



Sepulangnya kami kembali ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak menjadi guru TK?



Apakah kami tetap akan membiarkannya menjadi murid kualitas menengah?



Sebetulnya, kami juga telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai sekolahnya, kami pernah mencarikan guru les pribadi dan mendaftarkannya di tempat bimbingan belajar, juga membelikan berbagai materi belajar untuknya.

Anak kami juga sangat penurut, dia tidak lagi membaca komik lagi, tidak ikut kelas origami lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu tidak dilakukan lagi.

Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan terus tanpa henti. Namun biar bagaimana pun dia tetap seorang anak-anak, tubuhnya tidak bisa bertahan lagi dan terserang flu berat. Biar sedang diinfus dan terbaring di ranjang, dia tetap bersikeras mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya dia terserang radang paru-paru. Setelah sembuh, wajahnya terlihat semakin kurus. Akan tetapi ternyata hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja rangking 23. Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan rangsangan hadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah anak perempuanku kondisinya semakin pucat saja.



Apalagi, setiap kali akan menghadapi ujian, dia mulai tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, terus mencucurkan keringat dingin, terakhir hasil ujiannya malah menjadi nomor 33 yang mengejutkan kami. Aku dan suamiku secara diam-diam melepaskan aksi tekanan, dan membantunya tumbuh normal.



Dia kembali pada jam belajar dan istirahatnya yang normal, kami mengembalikan haknya untuk membaca komik, mengijinkannya untuk berlangganan majalah “Humor anak-anak” dan sejenisnya, sehingga rumah kami menjadi tenteram damai kembali. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak memahami akan nilai sekolahnya.



Pada akhir minggu, teman-teman sekerja pergi rekreasi bersama. Semua orang mempersiapkan lauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa serta suami dan anak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa dan guyonan, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan karya seni pendek.



Anak kami tiada keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan sangat gembira.



Dia sering kali lari ke belakang untuk mengawasi bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat sedikit miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap wadah sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.



Ketika makan terjadi satu kejadian di luar dugaan. Ada dua orang anak lelaki, satunya adalah bakat matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa Inggris. Kedua anak ini secara bersamaan berebut sebuah kue beras yang di atas piring, tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau saling membaginya. Walau banyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali tidak mau peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada hasilnya. Terakhir anak kami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan cara yang sederhana yaitu lempar koin untuk menentukan siapa yang menang.



Ketika pulang, jalanan macet dan anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku membuat guyonan dan terus membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan banyak bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan, membuat anak-anak ini terus memberi pujian. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio-nya masing-masing.



Ketika mendengar anak-anak terus berterima kasih, tanpa tertahankan pada wajah suamiku timbul senyum bangga.



Selepas ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku.



Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap kualitas menengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak diberitahukannya, hal yang pertama kali ditemukannya selama lebih dari 30 tahun mengajar.

Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu siapa teman sekelas yang paling kamu kagumi dan alasannya.



Selain anakku, semua teman sekelasnya menuliskan nama anakku.



Alasannya pun sangat beragam : antusias membantu orang, sangat memegang janji, tidak mudah marah, enak berteman, dan lain-lain, paling banyak ditulis adalah optimis dan humoris.



Wali kelasnya mengatakan banyak usul agar dia dijadikan ketua kelas saja.



Dia memberi pujian: “Anak anda ini, walau nilai sekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu”.



Saya bercanda pada anakku, kamu sudah mau jadi pahlawan. Anakku yang sedang merajut selendang leher terlebih menundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh: “Guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.”



Dia pun pelan-pelan melanjutkan: “Ibu, aku tidak mau jadi Pahlawan aku mau jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Aku terkejut mendengarnya dan mengamatinya dengan seksama.



Dia tetap diam sambil merajut benang wolnya, benang warna merah muda dipilinnya bolak balik di jarum, sepertinya waktu yang berjalan di tangannya mengeluarkan kuncup bunga.



Dalam hatiku pun terasa hangat seketika.



Pada ketika itu, hatiku tergugah oleh anak perempuan yang tidak ingin menjadi pahlawan ini. Di dunia ini ada berapa banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi seorang pahlawan, namun akhirnya menjadi seorang biasa di dunia fana ini.

Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang baik hati dan jujur.



Jika anakku besar nanti, dia pasti menjadi seorang isteri yang berbudi luhur, seorang ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja yang gemar membantu, tetangga yang ramah dan baik.



Apalagi dia mendapatkan ranking 23 dari 50 orang murid di kelasnya, kenapa kami masih tidak merasa senang dan tidak merasa puas?



Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang lain dan lebih menonjol lagi?



Lalu bagaimana dengan sisa 27 orang anak-anak di belakang anakku? Jika kami adalah orangtua mereka, bagaimana perasaan kami?



Anakmu bukan milikmu.

Mereka putra putri sang Hidup yang rindu pada diri sendiri, Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau, Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.

Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu, Sebab mereka ada alam pikiran tersendiri.

Patut kau berikan rumah untuk raganya,

Tapi tidak untuk jiwanya,

Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi meski dalam mimpi.

Kau boleh berusaha menyerupai mereka,

Namun jangan membuat mereka menyerupaimu Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur, Pun tidak tenggelam di masa lampau.

Kaulah busur, dan anak-anakmulah

Anak panah yang meluncur.

Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian.

Dia merentangmu dengan kekuasaan-Nya,

Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.

Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah, Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat Sebagaimana pula dikasihiNya busur yang mantap.

- Khalil Gibran

(copy from milis)

Rabu, 29 Februari 2012

Satu Bulan Penuh Arti

Hari ini, tanpa terasa, sudah masuk tanggal 1 Maret 2012. Hal tersebut, berarti, Liga, putra pertama kami, genap berusia 1 bulan. Subhanallah nak,,sekarang kamu sudah berusia 1 bulan. Alhamdulillah, Liga tumbuh sehat dan berat badannya bertambah dengan sangat baik. Terakhir ditimbang, berat badan Liga sudah naik 1 kg. Dan sekarang belum ditimbang lagi. InsyaAllah perkembangannya baik.. Amin.

Menjadi "new mom" memang memberi pengalaman yang sangat berharga bagi ku. Seperti kata temanku,, "Wah..sempurna sudah menjadi seorang wanita ya Lit", Selamat yaa..". Hal ini, ditandai dengan, sudah menikah, hamil, melahirkan, menyusui serta mengurus anak. Sehingga, hal ini juga yang menguatkanku, ketika terasa ngantuk yang teramat sangat, saat Liga bangun tengah malam entah minta mimik atau BAK atau BAB, aku menguatkan dengan berfikir, pengalaman seperti ini, tidak semua wanita merasakannya. Tapi, sekaligus, sebagian besar wanita merasakannya, jadi aku pasti kuat dan bisa menjalaninya dengan hati bahagia dan ikhlas.. terlebih, melihat wajah liga yang sungguh sangat membuatku takjub tak terhingga atas ciptaan Allah ini. Melihat bibirnya yang mungil dan merah, matanya yang kedip2 mau bobo, pipinya yang tembem, serta tangannya yang masih kecil dan sangat halus.. Subhanallah... rasanya bahagia sekali.. hilang ngantuk dan capek ini.

Hari ini, genap sudah 1 bulan, usia Liga Haddaf Saga Putra, putra pertama kami. Semoga perjalanan ibadah mengurus dan menjaga amanah Allah ini, senantiasa diberi kekuatan dan keberkahan dari Allah.. Amin.

Cium sayang dari ibu juga ayah untuk Liga.. :-)